Tanda Hubungan Pertemanan yang Toxic

Waspadai, Tanda Hubungan Pertemanan yang Toxic

Selain keluarga, hubungan pertemanan adalah anggota yang tidak terpisahkan dari kehidupan kami sehari-hari.

Teman-teman ada untuk menolong dan membangun kita. Namun sayangnya, kenyataan tidak senantiasa demikian. Ada terhitung kawan yang justru menyebabkan kami tidak bahagia.

Menurut para terapis, jika kami memandang beberapa tanda peringatan yang kurang baik, maka kami mungkin memiliki hubungan pertemanan yang beracun atau toxic.

“Hubungan pertemanan yang toxic kebanyakan menyebabkan kami mulai dimanfaatkan, menyebabkan kami mulai lebih tidak baik mengenai diri sendiri, dan tambah mulai seperti beban,” kata profesor komunikasi interpersonal di Universitas Illinois Springfield, Beth Ribarsky, PhD.

“Tidak diragukan lagi, hubungan gunakan surut, jadi ada kalanya kami memberi lebih banyak terhadap sebuah hubungan daripada yang kami terima, namun hubungan yang toxic konsisten menerus dapat menguras daya emosional dan fisik kita,” ungkapnya.

Selain itu, di sini kami juga akan sedikit membahas tentang permainan judi online yang tersedia di link situs jepang bet slot

Tanda-tanda hubungan pertemanan yang toxic

Jika kami mulai terlibat didalam pertemanan yang toxic, maka kami mesti segera menghindarinya.

Untuk mengetahuinya lebih lanjut, simak isyarat peringatan bahwa hubungan pertemanan kami lebih banyak merugikan daripada untung sebagai berikut.

1. Tidak menjunjung batasan

Dalam keadaan apa pun, batasan adalah suatu keharusan, tetapi teman yang toxic kemungkinan besar akan melupakan batasan yang udah kami tetapkan.

“Dalam pertemanan yang sehat, ke dua individu saling menjunjung batasan, ruang pribadi, dan individualitas satu serupa lain,” terang seorang psikolog berlisensi, David Tzall, PsyD.

“Namun, didalam pertemanan yang toxic, satu orang mungkin secara berkesinambungan melupakan atau melanggar batasan orang lain, entah itu melanggar privasi, menekan ke didalam aktivitas yang tidak diinginkan, atau tidak menjunjung nilai-nilai pribadi,” katanya.

Psikolog klinis, Carla Marie Manly, PhD, terhitung mencatat, kawan yang toxic condong senang memanfaatkan orang lain.

“Secara umum, kawan yang toxic kerap kali tidak menjunjung keperluan dan permohonan kita,” jelasnya.

2. Selalu coba untuk lebih unggul

Teman-teman kami semestinya jadi pendukung terbesar kita, jadi jika seseorang didalam lingkaran pertemanan tidak tertarik untuk isikan peran ini, maka itu jadi isyarat peringatan.

“Teman yang toxic hanya akan mengupayakan amenarik perhatian terhadap diri mereka sendiri,” kata Ribarsky.

“Jika kami baru saja beroleh pekerjaan baru, mereka akan mendiskreditkannya dan beranggap dirinya lebih baik dari kita,” terangnya.

Demikian pula, jika kami mengalami suatu hal seperti putus cinta, mereka akan bersama cepat mengatakan, mereka mengalaminya serupa buruknya, atau lebih-lebih lebih tidak baik dari yang kami alami.

Menurut Tzall, kami mungkin terhitung mulai kawan kami berkesinambungan coba beradu bersama kita.

“Ketika sebuah persahabatan jadi pertarungan perbandingan dan kompetisi yang berkesinambungan daripada hubungan yang saling menolong dan memunculkan semangat, perihal ini dapat merugikan,” katanya.

“Teman-teman semestinya merayakan keberhasilan satu serupa lain daripada mulai terancam atau iri,” ujarnya.

3. Menguras emosi

Tzall mengatakan, pertemanan yang toxic kerap kali melibatkan satu orang yang secara berkesinambungan membawa hal-hal negatif, drama, dan kekacauan emosional ke didalam hubungan.

“Mereka mungkin senantiasa mengeluh, atau tidak senang menolong orang lain sepanjang masa-masa sulit,” ungkapnya.

Yang lebih memperumit lagi, mereka lebih senang mengeluh kepada kami daripada secara aktif menangani masalah mereka.

“Teman yang toxic condong tidak senang menginvestasikan waktu dan daya untuk merampungkan masalah, mereka mungkin ‘menghindari konflik’, bukannya komunikatif dan kolaboratif,” kata Manly.

4. Suka memanfaatkan

Teman-teman yang toxic terhitung condong lebih senang bertemu atau berkata bersama kami gara-gara cuma mengidamkan memanfaatkan sisi baik kita.

“Orang-orang ini menginginkan kami untuk senantiasa ada kapan pun mereka membutuhkan, entah itu untuk menjawab pesan singkat atau panggilan, sampai menolong mereka beraktivitas,” kata Ribarsky.

“Sering kali, kami cuma akan mendengar kabar dari mereka ketika mereka perlu sesuatu.”

“Namun, ketika kami perlu bantuan, mereka tidak dapat ditemukan. Mereka lebih-lebih mungkin akan menyebabkan kami berpikir bahwa kami benar-benar membutuhkannya,” ungkapnya.

“Teman yang toxic kerap kali menghilang waktu kehidupan nyata dimulai,” menyadari Manly.

“Jika keadaan jadi susah atau rumit, kawan yang toxic kerap kali akan jadi orang pertama yang meninggalkan atau mengalihkan kesetiaan,” terangnya.

Menurut Tzall, terhadap kebanyakan kawan yang toxic tidak akan membalas kebaikan atau kemurahan hati kita. Bahkan, mereka mungkin menentukan untuk bersikap baik cuma jika itu untung mereka.

Tentang Penulis

admin3